Selasa, 31 Oktober 2017

Implementasi Kurikulum 2013 Di SD Negeri 28/IV Kota Jambi



Implementasi Kurikulum 2013 Di
SD Negeri 28/IV Kota Jambi


Pada tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberhentikan Kurikulum 2013 karena dinilai masih kurang sempurna. Pemberhentian itu diatur dalam Peraturan Menteri nomor 159 tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 yang dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014. Pemerintah melakukan evaluasi dan perbaikan K-13 sampai benar-benar siap digunakan di semua jenjang pendidikan.
Setelahnya, pada awal tahun 2016, kurikulum 2013 dinyatakan sudah selesai revisi dan akan disosialisasikan sebelum bulan Juli 2016. Dengan selesainya revisi kurikulum 2013 ini, pelaksanaan akan berlangsung secara bertahap. Artinya, dalam pelaksanaan tahun pelajaran 2016/2017, masih akan terjadi dualisme implementasi kurikulum, yaitu, KTSP 2006 dan K13.
SD Negeri 28/IV Kota Jambi merupakan salah satu sekolah percontohan pelaksanaan program kurikulum 2013. karena sebelumnya SD Negeri 28/IV Kota Jambi telah melaksanakan Pembelajaran Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM), Peran Serta Masyarakat (PSM), dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Implementasi Kurikulum 2013 di SD Negeri 28/IV Kota Jambi bekerjasama dengan LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan), UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Kota Jambi, dan orang tua peserta didik. Sebelum melaksanakan Kurikulum 2013, beberapa guru SD Negeri 28/IV Kota Jambi secara berkala mengikuti sosialisasi/diklat supaya guru mendapatkan bekal yang cukup dalam melaksanakan Kurikulum 2013.
Penerapan Kurikulum 2013 di SD Negeri 28/IV Kota Jambi sudah diterapkan untuk Kelas I dan Kelas IV. Pada penerapannya guru telah menggunakan pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan scientific, dan penilaian autentik. Tematik integrative merupakan penggabungan dari beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema, pendekatan scientific merupakan pendekatan melalui menanya, mencoba, dan menalar, sedangkan penilaian autentik merupakan penilaian yang mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil.
 
Penilaian yang dilakukan guru untuk mengisi rapor dilihat dari penilaian portofolio, rubrik penilaian, penilaian diri sendiri, dan juga dilihat dari ulangan harian atau tugas yang telah diberikan oleh guru. SKL Kurikulum 2013 berisi mengenai sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Implementasi Kurikulum 2013 tidak ada peserta didik yang tidak naik kelas karena peserta didik memiliki kelebihan tersendiri pada setiap kompetensi dasar, sehingga meskipun hanya menguasai satu kompetensi dasar mereka tetap bisa dinyatakan naik kelas.
Dalam penerapan kurikulum 2013 di SD Negeri 28/IV Kota Jambi, masih mengalami hambatan diantaranya :
1)      Masih adanya peserta didik yang belum bisa membaca, membedakan huruf, dan angka khususnya Kelas I.
2)      Materi terlalu banyak dan harus diselesaikan dengan target satu tema 1,5 bulan.
3)      Terlalu banyak administrasi yang harus diselesaikan.
4)      Pembuatan RPP harus mencantumkan tiga pendekatan, satu RPP digunakan untuk satu kali pertemuan.
5)      Guru merasa kesulitan dalam membagi waktu antara pelaksanaan pembelajaran dan administrasi, serta guru kesulitan dalam melakukan penilaian karena penilaian yang cukup banyak.
Alternatif pemecahan masalah di SD Negeri 28/IV Kota Jambi dilakukan dengan cara guru memberikan tugas kepada peserta didik apabila pada saat mengajar guru tidak bisa menyelesaikan satu pembelajaran. Guru juga meminta tolong kepada orang tua peserta didik untuk membantu dan mengawasi anaknya dalam belajar dan membantu anaknya memahami pelajaran yang sekiranya mereka belum paham. Ketika mendapatkan masalah dalam implementasi kurikulum, guru meminta bantuan kepada kepala sekolah supaya bisa menemukan solusi bersama-sama, selain itu guru juga membuat RPP ketika jam pelajaran selesai namun hal itu tetap belum bisa dikerjakan secara maksimal.

Gambar 1.1 Kegiatan Pendampingan K13

Gambar 1.2 Proses Belajar Mengajar Menggunakan K13
 

Rabu, 25 Oktober 2017

Komponen-komponen Kurikulum



Komponen – Komponen Kurikulum
Menurut Abdul Majid, dan Dian Andayani (2006:130), komponen adalah bagian yang integral dan fungsional yang tidak terpisahkan dari suatu sistem kurikulum karena komponen itu sendiri mempunyai peranan dalam pembentukan sistem kurikulum. Seperti halnya dalam sistem manapun, kurikulum harus mempunyai komponen lengkap dan fungsional baru bisa dikatakan baik. Sebaliknya kurikulum tidak dikatakan baik apabila didalamnya terdapat komponen yang tidak lengkap sekarang dipandang kurikulum yang tidak sempurna.
Menurut Nasution (1993:131), komponen kurikulum ada 4 yaitu : Tujuan, Bahan Pelajaran, Proses, dan Penilaian. Berikut ini akan di uraikan secara singkat mengenai komponen-komponen tersebut.

       1.  Komponen Tujuan
Menurut Dakiir (2004:23), tujuan merupakan hal paling penting dalam proses pendidikan.yaitu hal yang ingin dicapai secara keseluruhan, yang meliputi :

  • Tujuan domain kognitif yaitu tujuan yang mengarah pada pengembangan akal dan intelektual peserta didik.
  •  Tujuan domain afektif yaitu tujuan yang mengarah pada penggerakan hati nurani para peserta didik. 
  • Tujuan domain psikomotor yaitu tujuan yang menngarah pada pengembangan ketrampilan jasmani peserta didik.

Menurut Oemar Hamalik (1994:24), setiap mata pelajaran mempunyai tujuan sendiri dan berbeda dengan tujuan yang hendak dicapai oleh mata ajaran lainnya. Tujuan mata pelajaran merupakan penjabaran dari tujuan kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

      2.  Komponen Isi dan Struktur Progam atau Materi
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2010:102), Komponen materi adalah komponen yang didesain untuk mencapai komponen tujuan. Yang dimaksud dengan komponen materi adalah bahan-bahan kajian yang terdiri dari ilmu pengetahuan, nilai, pengalaman dan keterampilan yang dikembangkan ke dalam proses pembelajaran guna mencapai komponen tujuan.
Isi atau materi tersebut berupa materi-materi bidang studi, seperti matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan sebagainya. Bidang-bidang tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada. Bidang-bidang tersebut biasanya telah dicantumkan dalam struktur program kurikulum sekolah yang bersangkutan (Subandijah, 1992:5).

      3.  Komponen Metode
Menurut Muhammad Zaini (2009:79), Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbingan dan mengatur kegiatan, baik yang secara umum berlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran.

     4.  Komponen Evaluasi atau Penilaian
Menurut Lias Hasibuan (2010:38), Komponen evaluasi adalah komponen kurikulum yang dapat diperbandingkan seperti halnya penjaga gawang dalam permainan sepak bola, memfungsikan evaluasi berarti melakukan seleksi terhadap siapa yang berhak untuk diluluskan dan siapa yang belum berhak diluluskan, karena itu siswa yang dapat mencapai targetlah yang berhak untuk diluluskan,sedangkan siswa yang tidak mencapai target (prilaku yang diharapkan) tidak berhak untuk diluluskan. Menurut Hamid Syarif (2009:108), Evaluasi kurikulum dimaksudkan menilai suatu kurikulum sebagai program pendidikan untuk menentukan efisiensi, efektivitas, relevansi, dan produktivitas program dalam mencapai tujuan pendidikan. Efisiensi berkenaan dengan penggunaan waktu, tenaga, sarana dan sumber-sumber lainnya secara optimal. Efektivitas berkenaan dengan pemilihan atau penggunaan cara atau jalan utama yang paling tepat dalam mencapai suatu tujuan. Relevansi berkenaan dengan kesesuaian suatu program dan pelaksanaannya dengan tuntutan dan kebutuhan baik dari kepentingan masyarakat maupun peserta didik. Produktivitas berkenaan dengan optimalnya hasil yang dicapai dari suatu program (Nana Sudjana, 2005:49).

Kesimpulan
Komponen adalah bagian yang integral dan fungsional yang tidak terpisahkan dari suatu sistem kurikulum karena komponen itu sendiri mempunyai peranan dalam pembentukan sistem kurikulum
Karena kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Jadi, komponen kurikulum merupakan bagian-bagian atau unsur-unsur kurikulum yang telah direncanakan untuk mencapai  tujuan pendidikan tertentu
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Komponen-komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain.


Daftar Pustaka
Dakiir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, yogyakata: PT Rhineka Cipta. 2004:23.

Hamalik, Oemar.. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : Bumi Aksara. 1994:9. 2008

Hasibuan, Lias. Kurukulum dan Pemikiran Pendidikan.  Jakarta: Gaung Persada Press. 2010

Majid Abdul , dan  Andayani Dian, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2006hal.130

Nasution. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Citra Aditya Bakti. 1993:131

Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : RajaGrafindo Persada. 1992

Sudjana Nana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005, hal. 49

Sukmadinata, Syaodih, Nana. Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2010

Syarif, Hamid. Pengembanagan Kurikulum, Pasuruan: Garoeda Buana Indah, 2009

Zaini, Muhammad. Pengembangan Kurikulum; Konsep Implementasi, Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: Teras. 2009

Sabtu, 14 Oktober 2017

Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum

Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dapat diartikan atau dimaknai sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. Kurikulum ini diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan Sesutu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.
Menurut Nana S Sukmadinata (2006: 198) dilihat dari segi pengeluarannya, pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi dan desintralisasi. Dalam pengembangan kurikulu, yang sentralisasi bersifat uniform untuk seluruh Negara, daerah atau jenjang jenis sekolah. Sedangkan menurut Menurut Kunandar (2007: 139-141) pengembangan kurikulum dijenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah yang dikemangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan standar isi, serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat BSNP, harus didasarkan perinsip-perinsip sebagai berikut:
a) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
b)     Beragam dan terpadu
c)     Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
d)     Rayuan dengan kebutuhan kehidupan
e)     Menyeluruh dan berkesinambungan
f)      Belajar sepanjang hayat
g)     Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Landasan pengembangan kurikulum 2013 didasari secara filosofis, yuridis, dan konseptual sebagai berikut :
1.      Landasan Filosofis.
a.       Filosofis Pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
b.    Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.
2.      Landasan Yuridis.
a.  RPJMM 2010-2014 sektor pendidikan, tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum.
b.     PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
c. INPRES Nomor 1  tahun 2010, tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas PembangunanNasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.
3.      Landasan Konseptual.
a.       Relevansi pendidikan (link and match).
b.      Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter.
c.       Pembelajaran Kontekstual (contextual teaching and learning)
d.      Pembelajaran Aktif (student active learning)

Kurikulim 2013 pun memiliki kelebihan dan kelemahan dalam pelaksaaannya antara lain sebagai berikut:
a)   Kelebihan Kurikulum 2013 : Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual) karena berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan kompetensinya masing-masing, kurikulum 2013 yang berbasis karakter  dan kompetensi boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
b)   Kelemahan Kurikulum 2013 : Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013, tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan, pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu pelajaran-pelajaran tersebut berbeda.
.
Daftar Pustaka
Sukamdinata, S. Nana. Pengembangan Kurikulum teori dan Praktek. Remaja Rosda karya. 2006: Bandung
Kunandiar. Guru Implementasi Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan sukses dalam sertifikasi guru. Rajawali Press. Devisisi buku Perguruan Tinggi. Raja Grapindo Persada. 2007: Jakarta.
                                           
                                              Proses belajar mengajar kurikulum 2013